Tahapan Survei Air Tanah yang Profesional dan Akurat

Oleh: Rangga Sulaiman, S.T., dan Mohamad Arszandi Pratama, S.T., M.Sc. Ketersediaan air tanah yang cukup dan berkualitas menjadi faktor penting dalam mendukung kebutuhan rumah tangga, industri, pertanian, perkebunan, maupun pembangunan kawasan baru. Dalam banyak proyek, sumur bor dipilih sebagai sumber air utama karena dianggap mampu menyediakan pasokan yang lebih stabil dibandingkan sumber air permukaan. Namun, keberhasilan penyediaan air tanah tidak hanya ditentukan oleh proses pengeboran, melainkan sangat bergantung pada kualitas survei yang dilakukan sebelumnya. Survei air tanah yang profesional dan akurat merupakan langkah awal yang menentukan efisiensi biaya, tingkat keberhasilan pengeboran, serta keberlanjutan pemanfaatan air tanah dalam jangka panjang. Survei air tanah bukan sekadar kegiatan mencari lokasi yang diperkirakan mengandung air. Kegiatan ini merupakan rangkaian pekerjaan teknis yang dilakukan secara sistematis untuk memahami kondisi geologi, hidrogeologi, dan karakteristik bawah permukaan suatu wilayah. Pendekatan yang terstruktur memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan data dan analisis, bukan hanya berdasarkan perkiraan atau pengalaman lapangan semata. Tahap pertama dalam survei air tanah adalah studi pendahuluan atau pengumpulan data sekunder. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan berbagai informasi yang berkaitan dengan kondisi wilayah survei, seperti peta geologi, peta topografi, data curah hujan, peta penggunaan lahan, serta data sumur eksisting di sekitar lokasi. Informasi tersebut memberikan gambaran awal mengenai potensi akuifer, arah aliran air tanah, kondisi batuan penyusun, dan kemungkinan adanya zona imbuhan air tanah. Studi pendahuluan sangat penting karena membantu menentukan strategi survei lapangan yang lebih efektif dan efisien. Setelah data sekunder terkumpul, dilakukan survei lapangan atau rekognisi. Kegiatan ini bertujuan memverifikasi kondisi aktual di lapangan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang tidak terlihat pada peta atau data sekunder. Pengamatan meliputi jenis batuan yang tersingkap, kondisi lereng, pola drainase, keberadaan mata air, genangan, vegetasi, serta aktivitas manusia yang berpotensi mempengaruhi kualitas air tanah. Informasi dari masyarakat setempat mengenai kedalaman sumur, debit air, dan kondisi air pada musim kemarau juga sering menjadi data pendukung yang sangat berguna. Tahap berikutnya adalah penentuan titik dan lintasan survei geofisika. Pada pencarian air tanah, metode yang paling umum digunakan adalah metode geolistrik tahanan jenis. Penentuan lintasan pengukuran harus mempertimbangkan kondisi topografi, akses lapangan, arah struktur geologi, serta target kedalaman penyelidikan. Lintasan yang direncanakan dengan baik akan menghasilkan data yang lebih representatif terhadap kondisi bawah permukaan. Pelaksanaan pengukuran geolistrik dilakukan dengan memasang elektroda di permukaan tanah sesuai konfigurasi yang dipilih, seperti Schlumberger, Wenner, atau Dipole-Dipole. Arus listrik dialirkan ke dalam tanah dan respon kelistrikan bawah permukaan diukur. Data hasil pengukuran direkam secara sistematis untuk kemudian diolah lebih lanjut. Pada tahap ini, ketelitian pengukuran sangat penting karena kesalahan pemasangan elektroda, gangguan kelistrikan, atau pencatatan data yang tidak baik dapat mempengaruhi kualitas hasil interpretasi. Setelah pengukuran selesai, dilakukan pemeriksaan kualitas data. Data yang mengandung kesalahan, anomali tidak wajar, atau gangguan pengukuran perlu dievaluasi sebelum proses pengolahan dilakukan. Tahap ini sering disebut sebagai quality control. Survei yang profesional tidak hanya berfokus pada pengumpulan data sebanyak mungkin, tetapi juga memastikan bahwa data yang digunakan benar-benar layak untuk dianalisis. Data geolistrik kemudian diolah menggunakan perangkat lunak khusus untuk menghasilkan model atau penampang bawah permukaan. Proses ini disebut inversi data, yaitu mengubah data pengukuran lapangan menjadi distribusi nilai tahanan jenis yang lebih mendekati kondisi sebenarnya. Hasil pengolahan biasanya berupa penampang dua dimensi yang menunjukkan variasi lapisan bawah permukaan dan zona-zona yang diduga berpotensi mengandung air tanah. Tahap interpretasi merupakan salah satu tahapan paling krusial dalam survei air tanah. Interpretasi tidak dilakukan hanya dengan melihat nilai tahanan jenis, tetapi harus dikaitkan dengan informasi geologi dan hidrogeologi setempat. Lapisan dengan nilai tahanan jenis rendah belum tentu merupakan akuifer yang baik, karena dapat juga menunjukkan lapisan lempung yang kurang produktif. Sebaliknya, lapisan pasir, kerikil, atau batuan lapuk yang jenuh air sering kali menunjukkan karakteristik tahanan jenis tertentu yang perlu dikenali oleh tenaga ahli. Pengalaman dan pemahaman geologi lokal sangat menentukan kualitas interpretasi. Berdasarkan hasil interpretasi, disusun rekomendasi titik pengeboran. Rekomendasi ini biasanya mencakup koordinat lokasi, perkiraan kedalaman akuifer, ketebalan lapisan pembawa air, serta kedalaman pengeboran yang disarankan. Pada survei yang lebih lengkap, dapat pula diberikan rekomendasi desain awal sumur, seperti posisi screen dan panjang casing. Informasi ini membantu kontraktor pengeboran dan pemilik proyek dalam merencanakan pekerjaan secara lebih tepat. Setelah pengeboran dilakukan, tahapan penting berikutnya adalah verifikasi hasil survei. Data litologi hasil pengeboran dibandingkan dengan hasil interpretasi geolistrik untuk menilai tingkat kesesuaian. Jika ditemukan akuifer yang produktif, dilakukan uji pemompaan untuk mengetahui debit air, penurunan muka air tanah, dan kemampuan akuifer dalam menyuplai air secara berkelanjutan. Uji ini sangat penting karena keberadaan air saja belum cukup; akuifer harus mampu menghasilkan debit yang sesuai dengan kebutuhan. Selain aspek kuantitas, pengujian kualitas air juga perlu dilakukan. Parameter seperti pH, TDS, kandungan besi, mangan, dan parameter kimia lainnya diperiksa untuk memastikan air layak digunakan sesuai peruntukannya. Pada beberapa kasus, kualitas air menjadi faktor penentu utama apakah sumur dapat digunakan untuk kebutuhan domestik, industri, atau irigasi. Survei air tanah yang profesional juga harus didukung oleh dokumentasi dan pelaporan yang baik. Laporan survei umumnya memuat tujuan pekerjaan, metode yang digunakan, kondisi lapangan, hasil pengukuran, penampang geolistrik, interpretasi, rekomendasi titik bor, serta kesimpulan. Dokumentasi yang lengkap memudahkan evaluasi di masa mendatang dan menjadi dasar teknis yang dapat dipertanggungjawabkan. Perkembangan teknologi semakin meningkatkan akurasi survei air tanah. Penggunaan GPS presisi, Sistem Informasi Geografis (SIG), instrumen geolistrik digital, dan perangkat lunak pemodelan bawah permukaan memungkinkan integrasi data yang lebih baik dan visualisasi hasil yang lebih informatif. Dengan dukungan teknologi tersebut, proses analisis menjadi lebih cepat dan keputusan teknis dapat diambil dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi. Pada akhirnya, tahapan survei air tanah yang profesional dan akurat merupakan investasi penting sebelum pelaksanaan pengeboran sumur. Pendekatan yang sistematis, mulai dari studi pendahuluan hingga verifikasi hasil pengeboran, membantu mengurangi risiko kegagalan, mengoptimalkan biaya, dan meningkatkan peluang memperoleh sumber air yang produktif dan berkualitas. Di tengah meningkatnya kebutuhan air dan tantangan pengelolaan sumber daya alam, pelaksanaan survei air tanah secara profesional menjadi langkah yang sangat penting untuk mendukung pemanfaatan air tanah yang efisien, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat maupun kegiatan pembangunan. Daftar Pustaka ➢ Asdak, C. (2018). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ➢ Fetter, C. W. (2018). Applied Hydrogeology

Metode Geolistrik dalam Pencarian Air Tanah

Oleh: Rangga Sulaiman, S.T., dan Mohamad Arszandi Pratama, S.T., M.Sc. Ketersediaan air tanah yang memadai merupakan faktor penting dalam mendukung kebutuhan rumah tangga, industri, pertanian, perkebunan, maupun pembangunan infrastruktur. Sebelum dilakukan pengeboran sumur, diperlukan informasi mengenai kondisi bawah permukaan agar lokasi pengeboran dapat dipilih secara lebih tepat dan efisien. Salah satu metode yang paling banyak digunakan dalam pencarian air tanah adalah metode geolistrik tahanan jenis atau electrical resistivity method. Metode ini menjadi pilihan karena mampu memberikan gambaran kondisi bawah permukaan tanpa harus melakukan penggalian atau pengeboran terlebih dahulu. Metode geolistrik bekerja berdasarkan prinsip perbedaan kemampuan material bawah permukaan dalam menghantarkan arus listrik. Setiap jenis tanah dan batuan memiliki nilai tahanan jenis yang berbeda-beda. Lapisan pasir, kerikil, lempung, batuan lapuk, maupun batuan keras akan memberikan respon yang berbeda ketika dialiri arus listrik. Lapisan yang jenuh air umumnya memiliki nilai tahanan jenis yang lebih rendah dibandingkan lapisan yang kering atau batuan yang sangat kompak. Dengan menganalisis variasi nilai tahanan jenis tersebut, keberadaan akuifer dapat diperkirakan secara tidak langsung. Dalam survei geolistrik, sejumlah elektroda dipasang di permukaan tanah mengikuti lintasan tertentu. Arus listrik dialirkan melalui elektroda arus, sedangkan beda potensial yang muncul diukur menggunakan elektroda potensial. Dari hasil pengukuran tersebut dihitung nilai tahanan jenis semu yang kemudian diolah menggunakan perangkat lunak khusus untuk menghasilkan penampang bawah permukaan. Penampang ini menunjukkan distribusi tahanan jenis secara dua dimensi sehingga memudahkan interpretasi kondisi geologi dan hidrogeologi. Salah satu konfigurasi elektroda yang sering digunakan dalam pencarian air tanah adalah konfigurasi Schlumberger. Konfigurasi ini banyak dipilih karena efisien untuk penyelidikan vertikal dan mampu mencapai kedalaman yang cukup besar dengan jumlah perpindahan elektroda yang relatif sedikit. Selain Schlumberger, konfigurasi Wenner dan Dipole-Dipole juga digunakan sesuai tujuan survei dan kondisi lapangan. Pemilihan konfigurasi mempengaruhi resolusi data dan kemampuan mendeteksi perubahan lapisan bawah permukaan. Keunggulan utama metode geolistrik adalah kemampuannya memperkirakan kedalaman dan ketebalan lapisan pembawa air sebelum pengeboran dilakukan. Informasi ini sangat penting dalam perencanaan biaya dan spesifikasi teknis sumur. Dengan mengetahui perkiraan kedalaman akuifer, pemilik proyek dapat menentukan jenis peralatan pengeboran, panjang casing, dan kapasitas pompa yang sesuai. Hal ini membantu mengurangi risiko pemborosan akibat pengeboran yang tidak terarah. Selain itu, metode geolistrik dapat digunakan untuk membandingkan beberapa lokasi dalam satu area survei. Tidak semua bagian lahan memiliki potensi air tanah yang sama. Ada lokasi dengan akuifer tebal dan produktif, ada pula yang hanya memiliki lapisan tipis dengan debit terbatas. Dengan melakukan beberapa lintasan pengukuran, titik yang paling prospektif dapat dipilih sehingga peluang keberhasilan pengeboran meningkat secara signifikan. Dalam praktik lapangan, survei geolistrik biasanya diawali dengan studi pendahuluan. Data geologi, topografi, curah hujan, dan informasi sumur eksisting dikumpulkan untuk memahami karakteristik wilayah. Setelah itu ditentukan lintasan pengukuran yang mewakili kondisi lapangan. Panjang lintasan dan jarak antar elektroda disesuaikan dengan target kedalaman penyelidikan. Semakin besar jarak antar elektroda, semakin dalam penetrasi arus listrik ke bawah permukaan. Setelah pengukuran selesai, data dilakukan pemeriksaan kualitas untuk memastikan tidak ada kesalahan pengukuran yang signifikan. Data kemudian diolah menggunakan perangkat lunak inversi sehingga diperoleh model tahanan jenis bawah permukaan yang lebih mendekati kondisi sebenarnya. Tahap interpretasi merupakan bagian yang sangat penting karena hasil geolistrik tidak langsung menunjukkan keberadaan air, melainkan menunjukkan variasi sifat kelistrikan material bawah permukaan. Interpretasi harus dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan kondisi geologi setempat. Sebagai contoh, nilai tahanan jenis rendah sering dihubungkan dengan lapisan jenuh air, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat menunjukkan lapisan lempung yang kurang produktif sebagai akuifer. Sebaliknya, nilai tahanan jenis menengah pada lapisan pasir atau batuan lapuk yang jenuh air sering kali menjadi indikasi akuifer yang baik. Oleh karena itu, pengalaman dan pemahaman hidrogeologi sangat diperlukan agar hasil interpretasi lebih akurat. Metode geolistrik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan pengeboran eksplorasi langsung. Dari sisi biaya, survei geolistrik umumnya lebih ekonomis karena dapat menyelidiki area yang relatif luas dengan waktu yang lebih singkat. Dari sisi lingkungan, metode ini bersifat nondestruktif sehingga tidak menyebabkan kerusakan lahan yang berarti. Survei juga dapat dilakukan pada kawasan permukiman, perkebunan, maupun area proyek dengan gangguan yang minimal terhadap aktivitas di sekitarnya. Meskipun memiliki banyak keunggulan, metode geolistrik juga memiliki keterbatasan. Hasil yang diperoleh bersifat interpretatif dan dipengaruhi oleh kualitas data, konfigurasi elektroda, kondisi medan, serta kompleksitas geologi bawah permukaan. Pada daerah dengan lapisan yang sangat heterogen atau banyak gangguan kelistrikan, interpretasi dapat menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, hasil geolistrik sebaiknya dikombinasikan dengan data geologi, data sumur sekitar, dan bila diperlukan pengeboran verifikasi. Metode geolistrik telah digunakan secara luas pada berbagai kebutuhan, mulai dari pencarian sumber air untuk rumah tangga, perumahan, industri, perkebunan, hingga penyediaan air bersih skala desa dan kota. Dalam proyek-proyek tersebut, metode ini membantu meningkatkan efisiensi perencanaan dan mengurangi risiko kegagalan pengeboran. Banyak konsultan geoteknik dan hidrogeologi menjadikan survei geolistrik sebagai tahapan awal yang standar sebelum pelaksanaan sumur bor. Perkembangan teknologi juga terus meningkatkan kualitas survei geolistrik. Instrumen modern mampu merekam data secara digital dengan akurasi yang lebih baik, sementara perangkat lunak pengolahan data memungkinkan visualisasi bawah permukaan yang lebih detail. Integrasi dengan GPS dan Sistem Informasi Geografis (SIG) memudahkan pemetaan lokasi akuifer dan penyajian hasil kepada pengguna atau pengambil keputusan. Pada akhirnya, metode geolistrik merupakan salah satu teknologi yang sangat efektif dalam mendukung pencarian air tanah. Dengan memberikan gambaran kondisi bawah permukaan secara relatif cepat, ekonomis, dan tidak merusak lingkungan, metode ini membantu menentukan lokasi pengeboran yang lebih tepat dan efisien. Meskipun tidak dapat menggantikan pengeboran sebagai tahap verifikasi akhir, survei geolistrik memberikan dasar teknis yang kuat untuk mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan peluang keberhasilan penyediaan sumber air tanah yang berkelanjutan. Daftar Pustaka ➢ Asdak, C. (2018). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ➢ Fetter, C. W. (2018). Applied Hydrogeology (5th ed.). Long Grove, IL: Waveland Press. ➢ Keller, G. V., & Frischknecht, F. C. (1966). Electrical Methods in Geophysical Prospecting. Oxford: Pergamon Press. ➢ Loke, M. H. (2015). Tutorial: 2-D and 3-D Electrical Imaging Surveys. Penang: Geotomo Software. ➢ Reynolds, J. M. (2011). An Introduction to Applied and Environmental Geophysics (2nd ed.). Chichester: Wiley-Blackwell. ➢ Santoso, D. (2002). Pengantar Teknik Geofisika. Bandung: Institut Teknologi Bandung. ➢ Telford, W. M., Geldart, L. P., & Sheriff, R.

Pentingnya Survei Sumber Air Tanah Sebelum Pengeboran Sumur

Oleh: Rangga Sulaiman, S.T., dan Mohamad Arszandi Pratama, S.T., M.Sc. Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat, kegiatan industri, pertanian, perkebunan, maupun pembangunan kawasan permukiman. Di banyak daerah, terutama wilayah yang belum terlayani jaringan air perpipaan secara optimal, air tanah menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, pembangunan sumur bor sering dipilih sebagai solusi untuk memperoleh pasokan air yang lebih stabil dan berkelanjutan. Namun, pengeboran sumur tanpa didahului survei sumber air tanah dapat menimbulkan berbagai risiko teknis maupun ekonomi yang tidak sedikit. Masih banyak anggapan bahwa lokasi sumur dapat ditentukan hanya berdasarkan perkiraan, pengalaman lapangan, atau kebiasaan masyarakat setempat. Pendekatan tersebut memang terkadang menghasilkan sumur yang produktif, tetapi tidak memberikan tingkat kepastian yang memadai, terutama untuk kebutuhan proyek perumahan, industri, fasilitas umum, atau investasi jangka panjang. Kondisi bawah permukaan tanah sangat bervariasi, sehingga dua lokasi yang berdekatan belum tentu memiliki potensi air tanah yang sama. Perbedaan jenis batuan, ketebalan lapisan tanah, keberadaan rekahan, dan kedalaman akuifer dapat menyebabkan hasil pengeboran berbeda secara signifikan. Survei sumber air tanah dilakukan untuk mengurangi ketidakpastian tersebut. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi potensi keberadaan air tanah, menentukan lokasi yang paling prospektif untuk pengeboran, memperkirakan kedalaman lapisan pembawa air, serta memberikan dasar teknis dalam pengambilan keputusan. Dengan adanya survei, proses pengeboran tidak lagi dilakukan secara coba-coba, melainkan berdasarkan data dan analisis yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu alasan utama mengapa survei sangat penting adalah tingginya biaya pengeboran sumur. Pengeboran sumur dalam memerlukan mobilisasi alat berat, penggunaan pipa casing, screen, gravel pack, pompa, serta pekerjaan instalasi lainnya. Jika pengeboran dilakukan pada lokasi yang kurang tepat, biaya yang telah dikeluarkan bisa menjadi tidak efektif. Dalam beberapa kasus, sumur yang telah dibor dengan kedalaman puluhan meter ternyata hanya menghasilkan debit air yang kecil atau bahkan tidak menemukan akuifer yang produktif. Kerugian seperti ini dapat dihindari atau setidaknya diminimalkan melalui survei awal yang baik. Selain aspek kuantitas, kualitas air juga menjadi pertimbangan penting. Tidak semua air tanah layak digunakan untuk kebutuhan domestik atau industri. Air dapat mengandung kadar besi, mangan, garam, atau zat terlarut lainnya yang melebihi ambang yang diinginkan. Lokasi pengeboran yang terlalu dekat dengan sumber pencemar seperti septic tank, tempat pembuangan limbah, kandang ternak, atau kawasan industri berpotensi menghasilkan air yang kualitasnya kurang baik. Survei membantu memilih lokasi yang lebih aman dan mengurangi risiko kontaminasi terhadap sumber air tanah. Dalam pelaksanaannya, survei sumber air tanah umumnya mencakup beberapa kegiatan utama. Tahap pertama adalah studi pendahuluan dengan mengumpulkan data geologi, topografi, curah hujan, dan informasi sumur yang sudah ada di sekitar lokasi. Data ini memberikan gambaran awal mengenai kondisi wilayah dan potensi akuifer. Tahap berikutnya adalah survei lapangan untuk mengamati kondisi permukaan, jenis batuan, pola aliran air, dan faktor lingkungan lainnya yang dapat mempengaruhi keberadaan air tanah. Pada banyak proyek, survei lapangan kemudian dilengkapi dengan metode geofisika, terutama metode geolistrik tahanan jenis. Metode ini memungkinkan kondisi bawah permukaan dipelajari tanpa harus melakukan pengeboran terlebih dahulu. Dengan menganalisis perbedaan tahanan jenis material di bawah tanah, ahli geofisika dapat memperkirakan zona yang berpotensi mengandung air tanah, kedalaman akuifer, dan ketebalan lapisan pembawa air. Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan titik bor yang paling prospektif. Keuntungan lain dari survei adalah efisiensi waktu dan perencanaan. Dengan mengetahui perkiraan kedalaman akuifer, pemilik proyek dapat menyiapkan anggaran dan spesifikasi teknis pengeboran secara lebih realistis. Pemilihan kapasitas pompa, jenis pipa, dan desain sumur juga dapat disesuaikan dengan kondisi akuifer yang diperkirakan. Hal ini membuat proses pelaksanaan menjadi lebih terarah dan mengurangi kemungkinan perubahan pekerjaan di lapangan. Bagi pengembang perumahan, survei air tanah memiliki nilai strategis karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan pasokan air bagi penghuni. Untuk industri, ketersediaan air yang stabil sangat mempengaruhi operasional dan produktivitas. Pada sektor pertanian dan perkebunan, informasi potensi air tanah membantu perencanaan irigasi, terutama pada musim kemarau ketika kebutuhan air meningkat. Sementara itu, bagi pemerintah daerah dan instansi terkait, survei air tanah menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya air dan penyediaan layanan air bersih bagi masyarakat. Perlu dipahami bahwa survei tidak menjamin keberhasilan seratus persen, karena kondisi bawah permukaan tetap memiliki tingkat ketidakpastian tertentu. Namun, survei secara signifikan meningkatkan peluang keberhasilan dibandingkan pengeboran tanpa kajian awal. Pendekatan berbasis data dan analisis ilmiah memberikan dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan teknis maupun investasi. Perkembangan teknologi juga semakin meningkatkan kualitas survei air tanah. Integrasi GPS presisi, sistem informasi geografis (SIG), perangkat lunak pengolahan geofisika, dan basis data hidrogeologi memungkinkan interpretasi yang lebih akurat dan penyajian hasil yang lebih informatif. Dengan dukungan teknologi tersebut, rekomendasi titik pengeboran dapat disusun secara lebih sistematis dan mudah dipahami oleh pengguna. Pada akhirnya, survei sumber air tanah sebelum pengeboran sumur bukan sekadar tahapan tambahan, melainkan investasi awal yang sangat penting. Biaya survei umumnya jauh lebih kecil dibandingkan potensi kerugian akibat pengeboran yang tidak tepat sasaran. Dengan melakukan survei secara profesional, risiko kegagalan dapat dikurangi, biaya dapat dioptimalkan, kualitas dan kuantitas air dapat dipertimbangkan sejak awal, serta pemanfaatan air tanah dapat dilakukan secara lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Di tengah meningkatnya kebutuhan air dan tekanan terhadap sumber daya alam, penggunaan pendekatan ilmiah dalam pencarian air tanah menjadi semakin relevan. Survei yang baik tidak hanya membantu menemukan air, tetapi juga mendukung pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, aman, dan berorientasi jangka panjang bagi masyarakat maupun kegiatan pembangunan. Daftar Pustaka ➢ Asdak, C. (2018). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ➢ Fetter, C. W. (2018). Applied Hydrogeology (5th ed.). Long Grove, IL: Waveland Press. ➢ Kodoatie, R. J. (2012). Tata Ruang Air Tanah. Yogyakarta: Andi. ➢ Loke, M. H. (2015). Tutorial: 2-D and 3-D Electrical Imaging Surveys. Penang: Geotomo Software. ➢ Reynolds, J. M. (2011). An Introduction to Applied and Environmental Geophysics (2nd ed.). Chichester: Wiley-Blackwell. ➢ Santoso, D. (2002). Pengantar Teknik Geofisika. Bandung: Institut Teknologi Bandung. ➢ Todd, D. K., & Mays, L. W. (2005). Groundwater Hydrology (3rd ed.). New York: John Wiley & Sons. ➢ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air. ➢ Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah. ➢ Badan Geologi, Kementerian Energi dan