Panduan Lengkap: Bagaimana Data IFSAR Mengubah Lanskap Survei Geospasial?

Oleh: Rangga Sulaiman, S.T., dan Mohamad Arszandi Pratama, S.T., M.Sc. Dunia survei geospasial mengalami perubahan yang cukup besar dalam beberapa dekade terakhir. Pekerjaan yang dahulu sangat bergantung pada pengukuran langsung di lapangan kini dapat memanfaatkan semakin banyak sumber data dari teknologi penginderaan jauh. GNSS, fotogrametri, LiDAR, citra satelit optik, dan radar menjadi bagian dari ekosistem pemetaan modern. Masing-masing memiliki karakteristik dan kegunaan yang berbeda. Di antara perkembangan tersebut, Interferometric Synthetic Aperture Radar atau IFSAR menjadi salah satu teknologi yang menarik perhatian karena kemampuannya menyediakan informasi mengenai elevasi dan kondisi permukaan bumi dari pengamatan radar. Perubahan yang dibawa IFSAR bukan berarti survei lapangan menjadi tidak diperlukan. Justru, teknologi ini mengubah bagaimana pekerjaan survei direncanakan, bagaimana data awal diperoleh, dan bagaimana berbagai sumber informasi digabungkan untuk menghasilkan informasi geospasial yang lebih komprehensif. Lalu, sejauh mana data IFSAR mengubah lanskap survei geospasial? Dari Pengukuran Titik Menuju Informasi Spasial Berskala Luas Survei konvensional memiliki keunggulan dalam memperoleh pengukuran yang sangat terkontrol pada titik-titik tertentu. GNSS dan total station, misalnya, memungkinkan surveyor memperoleh koordinat dengan tingkat ketelitian yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan. Namun, pendekatan tersebut memiliki konsekuensi ketika area yang harus dipetakan semakin luas. Semakin besar wilayah, semakin banyak titik yang perlu diperiksa jika seluruh informasi harus diperoleh secara langsung di lapangan. Penginderaan jauh memberikan pendekatan yang berbeda. Alih-alih mengukur seluruh wilayah satu titik demi satu titik, sensor dapat memperoleh informasi mengenai area yang jauh lebih luas. IFSAR kemudian memanfaatkan informasi radar dan interferometri untuk menghasilkan informasi elevasi. Perubahan paradigma inilah yang penting. Teknologi tidak sekadar menggantikan alat lama dengan alat baru. Teknologi mengubah cara surveyor memikirkan proses pengumpulan data. Survei dapat dimulai dari informasi spasial yang sudah tersedia, kemudian pengukuran lapangan diarahkan pada lokasi yang memang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Memahami Posisi IFSAR dalam Survei Geospasial IFSAR merupakan bagian dari teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR). Sistem SAR menggunakan radar untuk mengamati permukaan bumi, sementara pendekatan interferometri memanfaatkan perbedaan fase dari pengamatan radar untuk memperoleh informasi geometrik mengenai permukaan. Dalam konteks pemetaan, hasil pemrosesan tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan model elevasi. Informasi elevasi inilah yang membuat IFSAR relevan bagi berbagai kegiatan survei dan pemetaan. Model elevasi dapat digunakan untuk menghasilkan kontur, slope, aspect, hillshade, profil medan, dan berbagai analisis topografi lainnya. Namun, penting untuk memahami bahwa IFSAR bukan sekadar “peta tiga dimensi”. Di balik produk tersebut terdapat proses akuisisi, pengolahan interferometri, koreksi geometrik, penghilangan kesalahan, dan georeferensi yang menentukan kualitas produk akhirnya. Karena itu, kemampuan membaca metadata dan memahami kualitas dataset merupakan bagian penting dari pekerjaan profesional yang menggunakan IFSAR. Mengapa IFSAR Menjadi Penting? Ada beberapa karakteristik IFSAR yang membuatnya relevan dalam survei geospasial. Salah satunya adalah kemampuan radar melakukan pengamatan tanpa bergantung pada cahaya matahari. Sistem radar dapat memperoleh data baik pada siang maupun malam hari. Karakteristik ini berbeda dengan sensor optik yang bergantung pada kondisi pencahayaan. Selain itu, radar memiliki kemampuan tertentu dalam menghadapi tutupan awan yang menjadi kendala bagi sensor optik. Hal tersebut sangat relevan untuk wilayah tropis seperti Indonesia, di mana kondisi atmosfer dan tutupan awan dapat menjadi tantangan dalam memperoleh citra optik secara konsisten. Namun, kemampuan tersebut tidak berarti radar bebas dari gangguan. Sinyal radar juga dipengaruhi oleh karakteristik permukaan, geometri pengamatan, atmosfer, vegetasi, dan berbagai faktor lainnya. Karena itu, setiap metode tetap memiliki batas kemampuan. Perubahan Cara Merencanakan Survei Salah satu dampak paling nyata dari tersedianya data IFSAR adalah perubahan pada tahap perencanaan survei. Dalam pendekatan lama, informasi mengenai kondisi topografi suatu area mungkin baru diperoleh setelah tim melakukan pengukuran lapangan. Kini, tim dapat melakukan desk study terlebih dahulu. Data IFSAR dapat digunakan untuk melihat karakteristik medan sebelum personel dikirim ke lokasi. Tim dapat memeriksa variasi elevasi, kemiringan, akses, serta bentuk topografi secara umum. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan: Dengan demikian, survei lapangan tidak lagi selalu menjadi tahap pertama untuk memahami suatu kawasan. Desk study dan penginderaan jauh dapat menjadi bagian penting dari tahap persiapan. IFSAR dan Konsep Multi-Source Data Survei geospasial modern semakin mengarah pada penggunaan berbagai sumber data. Satu proyek dapat menggunakan citra satelit, IFSAR, GNSS, LiDAR, fotogrametri, data administrasi, dan hasil survei terestris secara bersamaan. Pendekatan ini sering disebut sebagai multi-source atau multi-sensor geospatial data. IFSAR dapat memberikan informasi topografi pada skala luas. GNSS dapat digunakan untuk memperoleh koordinat titik dengan ketelitian tinggi. Fotogrametri dapat menghasilkan orthophoto dan model tiga dimensi dari citra udara. LiDAR dapat memberikan informasi elevasi dengan kepadatan titik yang tinggi dan kemampuan penetrasi tertentu terhadap vegetasi. Sementara itu, data survei terestris dapat digunakan untuk memperoleh pengukuran detail pada titik atau objek tertentu. Masing-masing sumber memiliki fungsi yang berbeda. Karena itu, pertanyaan “teknologi mana yang paling baik?” sering kali tidak memiliki satu jawaban. Pertanyaan yang lebih tepat adalah “teknologi mana yang paling sesuai untuk bagian pekerjaan tertentu?” Mengubah Peran Surveyor Perkembangan teknologi juga mengubah kompetensi yang dibutuhkan seorang surveyor. Surveyor modern tidak cukup hanya mampu melakukan pengukuran di lapangan. Mereka juga perlu memahami bagaimana data diperoleh dari berbagai sensor, bagaimana data tersebut diproses, serta bagaimana kualitasnya dievaluasi. Dalam pekerjaan berbasis IFSAR, misalnya, pengguna perlu memahami konsep dasar radar dan interferometri, sistem koordinat, datum, model elevasi, metadata, serta quality control. Kemampuan GIS juga semakin penting karena sebagian besar data penginderaan jauh pada akhirnya perlu diintegrasikan dengan informasi spasial lainnya. Dengan demikian, peran surveyor bergerak dari sekadar “pengumpul koordinat” menjadi pengelola dan interpreter informasi geospasial. Perubahan ini sebenarnya cukup logis. Ketika teknologi semakin mampu menghasilkan data dalam jumlah besar, tantangan berikutnya bukan hanya memperoleh data, tetapi menentukan data mana yang relevan dan bagaimana mengubahnya menjadi informasi yang dapat digunakan. IFSAR dalam Pengolahan Data GIS Data IFSAR menjadi semakin berguna ketika diintegrasikan ke dalam sistem informasi geografis. Model elevasi dapat digunakan sebagai input untuk berbagai proses analisis spasial. Contohnya adalah pembuatan slope. Dari model elevasi, perangkat lunak GIS dapat menghitung perubahan elevasi terhadap jarak horizontal dan menghasilkan peta kemiringan. Data tersebut dapat digunakan dalam berbagai kajian, seperti analisis medan, perencanaan infrastruktur, evaluasi lahan, dan studi wilayah. Analisis aspect juga dapat digunakan untuk mengetahui arah hadap lereng. Sementara hillshade memberikan representasi visual relief permukaan sehingga perubahan bentuk medan lebih mudah dipahami. Selain itu,
Pemanfaatan Data IFSAR untuk Kebutuhan Survei dan Perencanaan Wilayah

Oleh: Rangga Sulaiman, S.T., dan Mohamad Arszandi Pratama, S.T., M.Sc. Perencanaan suatu wilayah membutuhkan informasi yang cukup mengenai kondisi wilayah yang akan dikembangkan. Topografi, elevasi, kemiringan lahan, pola bentang alam, hingga keterhubungan suatu kawasan dengan wilayah di sekitarnya merupakan beberapa informasi yang dapat memengaruhi keputusan dalam perencanaan. Masalahnya, tidak semua wilayah mudah dipetakan secara langsung. Area yang luas, medan yang sulit dijangkau, tutupan vegetasi, maupun keterbatasan waktu dapat membuat pengumpulan data lapangan menjadi pekerjaan yang cukup kompleks. Di sinilah data penginderaan jauh dapat memberikan dukungan. Salah satu sumber informasi yang dapat dimanfaatkan adalah data IFSAR atau Interferometric Synthetic Aperture Radar. Teknologi ini memanfaatkan pengamatan radar dan prinsip interferometri untuk memperoleh informasi mengenai elevasi dan bentuk permukaan bumi. Produk elevasi yang dihasilkan kemudian dapat digunakan dalam berbagai analisis spasial. Bagi kegiatan survei pemetaan dan perencanaan wilayah, nilai data IFSAR bukan hanya terletak pada kemampuannya menghasilkan model elevasi. Data tersebut dapat menjadi bagian dari rangkaian informasi yang membantu tim memahami suatu kawasan sebelum keputusan teknis dan perencanaan dibuat. Lantas, seperti apa pemanfaatan data IFSAR dalam pekerjaan survei dan perencanaan wilayah? Data IFSAR sebagai Sumber Informasi Awal Suatu Wilayah Dalam suatu proyek, pekerjaan survei tidak selalu dimulai dengan langsung mengukur seluruh area di lapangan. Sebelum tim turun ke lokasi, biasanya diperlukan pemahaman awal mengenai karakteristik wilayah yang akan diteliti. Informasi tersebut dapat membantu menentukan metode survei, memperkirakan kondisi medan, mengidentifikasi area yang sulit dijangkau, dan menyusun strategi pekerjaan. Data IFSAR dapat digunakan pada tahap tersebut. Model elevasi yang tersedia dari data IFSAR dapat memberikan gambaran mengenai variasi ketinggian dalam suatu kawasan. Dari data tersebut, pengguna dapat melihat wilayah yang relatif datar, area dengan kemiringan tinggi, lembah, punggungan, serta bentuk topografi lainnya. Informasi awal seperti ini cukup penting ketika area pekerjaan memiliki cakupan yang luas. Daripada melihat lokasi hanya melalui peta dua dimensi atau citra biasa, tim dapat memperoleh gambaran topografi yang lebih jelas melalui model elevasi digital. Data tersebut kemudian dapat menjadi salah satu bahan untuk menyusun rencana survei lapangan secara lebih terarah. Membantu Menentukan Strategi Survei Pemetaan Setiap proyek memiliki kebutuhan survei yang berbeda. Ada proyek yang membutuhkan pemetaan detail untuk area yang relatif kecil. Ada pula proyek yang berada pada kawasan yang luas sehingga pekerjaan harus dilakukan secara bertahap. Dalam kondisi seperti ini, data IFSAR dapat digunakan sebagai data pendukung untuk menentukan strategi pengumpulan data. Misalnya, hasil analisis elevasi menunjukkan bahwa suatu kawasan memiliki variasi topografi yang cukup besar. Tim survei dapat menggunakan informasi tersebut untuk memperkirakan kondisi medan sebelum menentukan metode pengukuran yang sesuai. Informasi kemiringan lereng juga dapat membantu memperkirakan tingkat kesulitan akses menuju suatu lokasi Area dengan lereng yang curam tentu memiliki karakteristik operasional yang berbeda dibandingkan kawasan yang relatif datar. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap perencanaan personel, waktu pekerjaan, jalur akses, hingga pemilihan metode akuisisi data. Dengan demikian, data IFSAR dapat berfungsi sebagai salah satu bahan dalam tahap persiapan survei, bukan semata-mata sebagai produk akhir pemetaan. Mendukung Pemetaan Topografi pada Area yang Luas Salah satu kebutuhan umum dalam survei pemetaan adalah memperoleh gambaran topografi suatu kawasan. Pada area yang luas, pengumpulan informasi elevasi secara langsung pada setiap bagian wilayah dapat membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar. Data IFSAR dapat memberikan alternatif berupa informasi elevasi dengan cakupan yang luas. USGS, misalnya, menggunakan data IFSAR untuk menghasilkan produk elevasi pada wilayah Alaska yang luas dan memiliki kondisi geografis yang menantang. Dalam konteks pekerjaan perencanaan, informasi tersebut dapat digunakan sebagai data dasar untuk melihat karakteristik wilayah secara regional. Dari model elevasi, pengguna dapat menghasilkan berbagai data turunan seperti kontur, slope, aspect, hillshade, maupun profil elevasi. Masing-masing produk dapat memberikan sudut pandang yang berbeda terhadap kondisi kawasan. Kontur dapat membantu memahami perubahan elevasi. Slope menunjukkan tingkat kemiringan lahan. Aspect memberikan informasi mengenai arah lereng. Sementara hillshade dapat membantu memberikan gambaran visual mengenai relief permukaan. Ketika seluruh informasi tersebut dianalisis secara bersamaan, kondisi topografi suatu wilayah dapat dipahami dengan lebih baik. Mendukung Analisis Kesesuaian Lahan Informasi topografi merupakan salah satu komponen yang dapat digunakan dalam analisis kesesuaian lahan. Tidak semua lahan memiliki karakteristik yang sama untuk suatu bentuk pemanfaatan. Lahan yang relatif datar, misalnya, memiliki kondisi berbeda dengan lahan yang memiliki kemiringan tinggi. Data IFSAR dapat membantu menyediakan informasi elevasi dan kemiringan sebagai salah satu parameter analisis. Dalam lingkungan GIS, data tersebut dapat dikombinasikan dengan berbagai informasi lainnya, seperti penggunaan lahan, jaringan jalan, batas administrasi, kawasan lindung, hidrologi, maupun data kependudukan. Hasilnya bukan sekadar peta topografi, tetapi analisis spasial yang lebih komprehensif Sebagai contoh, suatu tim perencana dapat menggunakan informasi slope untuk mengidentifikasi area yang secara topografis relatif mudah dikembangkan dan area yang memerlukan perhatian lebih besar. Namun, perlu ditekankan bahwa kemiringan lahan bukan satu-satunya parameter dalam menentukan kesesuaian suatu lokasi. Aspek geologi, geoteknik, lingkungan, tata ruang, aksesibilitas, status lahan, dan ketentuan regulasi juga perlu dipertimbangkan sesuai tujuan proyek. Data IFSAR menyediakan salah satu bagian dari informasi tersebut, bukan keseluruhan jawabannya. Membantu Perencanaan Infrastruktur Pembangunan infrastruktur sangat berkaitan dengan kondisi fisik wilayah. Jalan, kawasan permukiman, jaringan drainase, bendungan, saluran, fasilitas publik, maupun berbagai infrastruktur lainnya perlu direncanakan dengan mempertimbangkan karakter topografi lokasi. Informasi elevasi dapat membantu tim perencana memahami bagaimana suatu infrastruktur akan berhubungan dengan kondisi medan di sekitarnya. Sebagai contoh, dalam studi awal suatu koridor jalan, model elevasi dapat digunakan untuk melihat perubahan ketinggian sepanjang jalur yang direncanakan. Profil elevasi kemudian dapat memberikan gambaran mengenai tanjakan, turunan, dan perubahan medan. Hal yang sama dapat dilakukan untuk analisis awal jaringan drainase. Perbedaan elevasi merupakan salah satu informasi penting dalam memahami kecenderungan pergerakan air secara permukaan. Dengan model elevasi yang tepat, tim dapat melakukan analisis terrain dan hidrologi menggunakan perangkat lunak GIS. Meski demikian, hasil analisis berbasis IFSAR tetap harus disesuaikan dengan tingkat ketelitian yang dibutuhkan. Untuk desain teknis rinci, data tersebut mungkin perlu dilengkapi atau divalidasi menggunakan hasil survei dengan metode yang memiliki ketelitian sesuai kebutuhan pekerjaan. Mendukung Studi Awal Pengembangan Kawasan Sebelum suatu kawasan dikembangkan, tim perencana biasanya perlu mengetahui kondisi eksistingnya. Data IFSAR dapat membantu memberikan gambaran awal mengenai bentuk medan kawasan tersebut. Informasi ini dapat berguna pada tahap feasibility study atau studi pendahuluan ketika tim belum membutuhkan
Mengenal Apa Itu Data IFSAR dan Penggunaannya dalam PemetaanTopografi

Oleh: Rangga Sulaiman, S.T., dan Mohamad Arszandi Pratama, S.T., M.Sc. Ketika suatu wilayah akan dipetakan, salah satu informasi paling penting yang perlu diketahui adalah kondisi ketinggian permukaan tanah. Informasi tersebut menjadi dasar untuk memahami bentuk medan, kemiringan lereng, pola aliran air, hingga kondisi topografi yang dapat memengaruhi perencanaan pembangunan. Selama ini, pengumpulan informasi topografi dapat dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari pengukuran terestris menggunakan GNSS dan total station, fotogrametri menggunakan wahana udara, hingga teknologi penginderaan jauh berbasis radar. Salah satu teknologi yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan informasi elevasi dalam cakupan wilayah yang luas adalah Interferometric Synthetic Aperture Radar atau yang umum dikenal sebagai InSAR. Dalam praktik pemetaan, istilah IFSAR juga banyak digunakan untuk merujuk pada data atau produk elevasi yang dihasilkan menggunakan teknologi interferometric synthetic aperture radar. Teknologi ini menarik karena menggunakan gelombang radar untuk memperoleh informasi mengenai permukaan bumi, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi pencahayaan seperti metode berbasis kamera. Lalu, apa sebenarnya data IFSAR, bagaimana proses pembentukannya, dan mengapa data tersebut banyak digunakan untuk kebutuhan pemetaan topografi? Apa Itu IFSAR? IFSAR merupakan singkatan dari Interferometric Synthetic Aperture Radar. Secara sederhana, teknologi ini memanfaatkan data Synthetic Aperture Radar (SAR) dan prinsip interferometri untuk memperoleh informasi mengenai posisi atau ketinggian permukaan bumi. Berbeda dengan kamera yang merekam pantulan cahaya tampak, radar bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik dan merekam sinyal yang kembali setelah berinteraksi dengan permukaan bumi. Sistem SAR kemudian memanfaatkan pergerakan sensor untuk membentuk citra radar dengan resolusi yang lebih tinggi. Sementara itu, interferometri menggunakan perbedaan fase dari dua pengamatan radar untuk memperoleh informasi geometrik mengenai permukaan. Dua atau lebih citra SAR dari wilayah yang sama dapat dibandingkan untuk mengetahui perbedaan jarak antara sensor dan target di permukaan bumi. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk memperoleh informasi topografi maupun perubahan elevasi. Dengan demikian, IFSAR bukan sekadar gambar radar biasa. Di balik data tersebut terdapat informasi geometrik yang dapat diproses menjadi model elevasi tiga dimensi. Inilah alasan mengapa teknologi IFSAR memiliki peran penting dalam penginderaan jauh dan pemetaan topografi. Bagaimana Prinsip Kerja IFSAR? Untuk memahami data IFSAR, kita tidak harus masuk terlalu jauh ke dalam persamaan matematika radar. Namun, konsep dasarnya perlu dipahami. Bayangkan sebuah sensor radar berada di udara dan mengamati permukaan bumi. Sensor tersebut mengirimkan gelombang elektromagnetik menuju permukaan dan kemudian menerima kembali sinyal yang dipantulkan. Dalam sistem interferometri, pengamatan terhadap area yang sama dilakukan dari posisi atau konfigurasi geometris tertentu sehingga terdapat perbedaan fase dan jarak antara sensor dengan objek di permukaan. Perbedaan fase tersebut kemudian diproses menjadi interferogram. Dari informasi interferometri dan geometri pengamatan, informasi ketinggian permukaan dapat dihitung. Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan sebagai: Pengamatan radar → pengolahan data SAR → interferometri → informasi fase → perhitungan elevasi → model ketinggian Proses sebenarnya jauh lebih kompleks karena membutuhkan berbagai tahapan koreksi dan pengolahan. Faktor seperti baseline antara pengamatan, atmosfer, noise, geometri sensor, serta perubahan kondisi permukaan dapat memengaruhi hasil akhir. Karena itu, kualitas data IFSAR tidak hanya ditentukan oleh sensornya, tetapi juga oleh metode akuisisi dan proses pengolahan datanya. Mengapa Radar Digunakan untuk Pemetaan Topografi? Salah satu keunggulan utama teknologi radar adalah kemampuannya melakukan pengamatan tanpa bergantung sepenuhnya pada kondisi pencahayaan matahari. Sistem radar dapat bekerja pada siang maupun malam hari. Radar juga memiliki karakteristik yang membuatnya dapat digunakan dalam kondisi tertentu ketika metode optik menghadapi kendala. USGS, misalnya, menggunakan IFSAR untuk memperoleh data elevasi di Alaska, termasuk wilayah dengan tutupan awan, medan yang sulit, dan lokasi yang relatif terpencil. Hal ini menjadi penting dalam pemetaan wilayah yang memiliki kondisi lingkungan menantang. Pada metode fotogrametri, keberadaan awan atau kondisi pencahayaan yang tidak sesuai dapat mengganggu proses akuisisi citra. Radar memiliki pendekatan yang berbeda karena sensor bekerja dengan gelombang elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu. Namun, bukan berarti IFSAR selalu lebih baik daripada metode pemetaan lainnya. Setiap teknologi memiliki karakteristik, tingkat akurasi, resolusi, biaya, serta keterbatasan masing-masing. Karena itu, pemilihan metode tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan. Apa yang Dimaksud dengan Data IFSAR? Dalam konteks pemetaan, data IFSAR biasanya merujuk pada produk data elevasi atau informasi geospasial yang dihasilkan melalui teknologi interferometric SAR. Produk yang dihasilkan dapat berupa model permukaan maupun model medan, tergantung pada metode pengolahan dan karakteristik dataset yang tersedia. Salah satu produk yang umum ditemukan adalah Digital Surface Model (DSM). DSM menggambarkan ketinggian permukaan yang mencakup objek yang berada di atas tanah, seperti vegetasi dan bangunan. USGS, misalnya, mendistribusikan produk IFSAR yang mencakup Digital Surface Model (DSM) dan Digital Terrain Model (DTM). DSM merepresentasikan permukaan termasuk fitur di atas tanah, sedangkan DTM berusaha merepresentasikan elevasi terrain atau bare earth setelah pengaruh objek seperti vegetasi dan bangunan diperhitungkan. Perbedaan ini sangat penting bagi pengguna data. Jika tujuan pekerjaan adalah mengetahui bentuk permukaan secara umum, DSM dapat menjadi informasi yang berguna. Namun, jika analisis membutuhkan gambaran terrain atau bare earth, pengguna perlu memastikan bahwa dataset yang digunakan memang menyediakan DTM atau produk yang sesuai. Dengan kata lain, istilah “data elevasi” tidak selalu berarti satu jenis data yang sama. IFSAR dan Digital Elevation Model Salah satu alasan data IFSAR banyak dikaitkan dengan pemetaan topografi adalah kemampuannya menghasilkan model elevasi digital. Digital Elevation Model atau DEM merupakan representasi digital mengenai elevasi permukaan bumi. Data ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menghasilkan berbagai informasi turunan, seperti kontur, hillshade, slope, aspect, profil elevasi, hingga berbagai analisis topografi lainnya. Dalam sistem informasi geografis, data elevasi dapat dikombinasikan dengan data lain untuk memberikan gambaran spasial yang lebih lengkap. Sebagai contoh, sebuah DEM dapat digunakan untuk menganalisis: kemiringan suatu wilayah; arah lereng; perbedaan elevasi; pola aliran permukaan; daerah dengan topografi relatif rendah; bentuk lembah dan punggungan; serta karakteristik medan secara umum. Data tersebut kemudian dapat menjadi salah satu bahan dalam pekerjaan survei pemetaan dan analisis wilayah. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua produk IFSAR dapat langsung dianggap sebagai DEM dengan karakteristik yang sama. Resolusi, vertical accuracy, horizontal accuracy, datum, sistem koordinat, jenis produk, serta metode produksinya perlu diperiksa terlebih dahulu. Penggunaan Data IFSAR dalam Pemetaan Topografi Dalam pemetaan topografi, data IFSAR dapat memberikan gambaran elevasi pada wilayah yang luas. Hal ini sangat berguna ketika pekerjaan membutuhkan informasi awal mengenai bentuk medan sebelum dilakukan pengukuran