Oleh: Rangga Sulaiman, S.T., dan Mohamad Arszandi Pratama, S.T., M.Sc.
Periode 2021–2026 menjadi salah satu fase penting dalam perkembangan infrastruktur Indonesia. Setelah menghadapi gangguan pembangunan akibat pandemi, pemerintah kembali mendorong pembangunan konektivitas, infrastruktur dasar, kawasan perkotaan, sumber daya air, hingga proyek strategis nasional.
Perkembangan tersebut tidak hanya menghasilkan semakin banyak struktur yang dibangun, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap informasi teknis sebelum konstruksi dimulai. Salah satu informasi yang sangat penting adalah kondisi tanah.
Bangunan dapat dirancang dengan struktur yang sangat baik, tetapi struktur tersebut tetap bergantung pada tanah sebagai media pendukungnya. Karena itu, semakin kompleks suatu proyek, semakin penting pula pemahaman terhadap karakteristik tanah di lokasi pembangunan.
Dalam konteks tersebut, uji sondir dan boring menjadi bagian penting dari penyelidikan geoteknik. Keduanya membantu memberikan gambaran mengenai kondisi bawah permukaan yang tidak dapat diketahui hanya melalui pengamatan visual.
Lalu, bagaimana tren pembangunan infrastruktur Indonesia selama 2021–2026 berkaitan dengan kebutuhan uji tanah? Dan mengapa sondir boring memiliki peran penting dalam perkembangan proyek konstruksi?
Melihat Tren Infrastruktur Indonesia 2021–2026
Untuk memahami hubungan tersebut, pertama-tama perlu melihat skala pembangunan infrastrukturnya.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa anggaran infrastruktur Indonesia berada pada Rp403,3 triliun pada 2021, Rp372,8 triliun pada 2022, outlook Rp399,6 triliun pada 2023, dan Rp423,4 triliun dalam APBN 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa belanja infrastruktur tetap berada pada skala yang sangat besar meskipun mengalami perubahan dari tahun ke tahun.
Pada 2025, Kementerian PUPR memperoleh pagu efektif sekitar Rp73,76 triliun untuk pembangunan dan preservasi infrastruktur pekerjaan umum. Prioritasnya antara lain mencakup jalan nasional, air bersih, sanitasi, dan irigasi.
Sementara itu, arah pembangunan 2025–2029 juga memperluas fokus pada infrastruktur dasar, pemerataan pembangunan wilayah, ketahanan pangan, air, energi, pengembangan kota, serta infrastruktur yang lebih berketahanan terhadap perubahan iklim. Arah tersebut tercantum dalam RPJMN 2025–2029.
Data tersebut tidak berarti bahwa jumlah pekerjaan sondir otomatis meningkat dengan persentase yang sama. Namun, data tersebut menunjukkan konteks industri yang relevan: aktivitas pembangunan infrastruktur tetap berada pada skala besar dan melibatkan berbagai jenis proyek.
Di sinilah kebutuhan terhadap data tanah menjadi semakin penting.
Mengapa Perkembangan Infrastruktur Berkaitan dengan Uji Tanah?
Setiap proyek konstruksi berinteraksi dengan kondisi tanah.
Perbedaannya terletak pada jenis struktur, besarnya beban, karakteristik lokasi, kedalaman fondasi, dan tingkat risiko proyek.
Pembangunan jalan membutuhkan informasi mengenai tanah dasar dan lapisan pendukung. Jembatan memerlukan informasi mengenai kondisi tanah pada lokasi fondasi dan struktur pendukungnya. Gedung membutuhkan data yang dapat digunakan dalam menentukan pendekatan desain fondasi.
Sementara itu, bendungan, tanggul, struktur pengendali banjir, kawasan industri, dan berbagai fasilitas lainnya dapat membutuhkan penyelidikan yang lebih kompleks sesuai karakteristik masing-masing.
Dengan semakin beragamnya proyek yang dibangun, kebutuhan terhadap informasi kondisi bawah permukaan juga menjadi semakin beragam.
Karena itu, tren pembangunan infrastruktur Indonesia dapat dilihat bukan hanya dari panjang jalan atau jumlah bangunan yang dibangun, tetapi juga dari meningkatnya kebutuhan akan data pendukung untuk membuat keputusan desain.
Sondir sebagai Salah Satu Sumber Data Geoteknik
Sondir atau Cone Penetration Test (CPT) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memperoleh informasi mengenai respons tanah terhadap penetrasi konus.
Dalam pelaksanaannya, konus didorong ke dalam tanah dan parameter penetrasi dicatat terhadap kedalaman. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk melihat perubahan karakteristik tanah secara vertikal.
SNI 2827:2008 merupakan standar nasional yang mengatur metode pengujian lapangan dengan alat sondir.
Keunggulan praktis metode ini adalah kemampuannya memberikan profil data secara menerus sepanjang kedalaman pengujian. Dengan demikian, perubahan lapisan tanah dapat lebih mudah diamati dibandingkan apabila hanya mengandalkan pengamatan permukaan.
Namun, hasil sondir tetap harus diinterpretasikan dalam konteks geoteknik. Nilai pengujian bukanlah keputusan desain itu sendiri, melainkan salah satu sumber informasi yang digunakan engineer.
Boring Memberikan Informasi yang Berbeda
Berbeda dengan sondir, boring dilakukan dengan membuat lubang pemboran untuk mengetahui kondisi lapisan tanah pada kedalaman tertentu.
Boring dapat dikombinasikan dengan pengambilan sampel tanah maupun pengujian lapangan seperti Standard Penetration Test (SPT), tergantung kebutuhan penyelidikan.
Hal ini memberikan keuntungan ketika proyek membutuhkan informasi mengenai jenis material tanah secara langsung atau memerlukan sampel untuk pengujian laboratorium.
Dengan demikian, sondir dan boring sebaiknya tidak dipandang sebagai dua metode yang saling bersaing.
Keduanya dapat memberikan jenis informasi yang berbeda dan pada proyek tertentu dapat digunakan secara bersamaan.
Misalnya, sondir dapat memberikan profil resistensi tanah secara menerus, sementara boring dapat memberikan informasi stratigrafi dan sampel tanah yang diperlukan untuk pengujian lebih lanjut.
Infrastruktur Semakin Kompleks, Data Tanah Semakin Penting
Salah satu perubahan penting selama periode 2021–2026 adalah meningkatnya perhatian terhadap pembangunan infrastruktur yang tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas, ketahanan, dan keberlanjutan.
Pada 2025, Kementerian PU menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur diarahkan antara lain untuk mendukung konektivitas, infrastruktur dasar, ketahanan pangan, air, energi, pemerataan wilayah, serta infrastruktur yang berketahanan iklim.
Semakin banyak fungsi yang harus dipenuhi oleh suatu infrastruktur, semakin penting pula tahap perencanaan.
Sebagai contoh, sebuah jalan bukan hanya harus dapat dibangun, tetapi juga harus mampu melayani beban lalu lintas dan kondisi lingkungan selama masa layan. Demikian pula struktur jembatan harus mempertimbangkan kondisi fondasi dan lingkungan tempat struktur tersebut berada.
Data geoteknik membantu mengurangi ketidakpastian tersebut.
Dari “Membangun” Menjadi “Membangun dengan Data”
Perubahan yang menarik selama perkembangan industri konstruksi adalah semakin kuatnya kebutuhan terhadap pendekatan berbasis data.
Dalam proyek modern, keputusan teknis tidak ideal apabila hanya berdasarkan pengalaman atau asumsi umum mengenai kondisi lokasi.
Dua lokasi yang terlihat serupa dari permukaan dapat memiliki kondisi tanah yang berbeda.
Misalnya, suatu kawasan dapat memiliki lapisan tanah keras pada kedalaman relatif dangkal, sedangkan kawasan lain yang hanya berjarak beberapa ratus meter dapat memiliki lapisan lunak yang lebih tebal.
Tanpa penyelidikan, perbedaan tersebut sulit diketahui secara akurat.
Sondir boring kemudian berfungsi sebagai salah satu cara untuk mengubah kondisi bawah tanah yang tidak terlihat menjadi informasi teknis yang dapat dianalisis.
Hubungan antara Data Sondir dan Desain Fondasi
Salah satu penggunaan paling penting dari data penyelidikan tanah adalah mendukung perencanaan fondasi.
Fondasi harus dapat menyalurkan beban struktur ke tanah dengan kondisi yang memenuhi persyaratan teknis. Untuk menentukan pendekatan yang sesuai, engineer membutuhkan informasi mengenai kondisi tanah dan parameter geoteknik yang relevan.
Data sondir dapat digunakan sebagai salah satu input untuk melakukan interpretasi kondisi tanah dan memperkirakan parameter tertentu berdasarkan korelasi yang sesuai.
Namun, korelasi tidak boleh dipahami sebagai pengganti penyelidikan dan penilaian engineering secara keseluruhan.
Dalam proyek tertentu, data sondir mungkin perlu dilengkapi dengan boring, SPT, pengujian laboratorium, pengamatan muka air tanah, atau metode lainnya.
Artinya, kualitas desain sangat dipengaruhi oleh kesesuaian antara metode penyelidikan dan kebutuhan proyek.
Mengapa Data Tanah Juga Berkaitan dengan Efisiensi Proyek?
Penyelidikan tanah sering kali dianggap sebagai biaya awal.
Namun, secara konseptual, data tersebut juga dapat dipandang sebagai investasi untuk mengurangi ketidakpastian.
Bayangkan sebuah proyek telah memasuki tahap konstruksi, kemudian ditemukan bahwa kondisi tanah berbeda secara signifikan dari asumsi awal.
Perubahan desain pada tahap tersebut dapat menyebabkan pekerjaan tambahan, perubahan metode konstruksi, penjadwalan ulang, atau kebutuhan material tambahan.
Sebaliknya, semakin banyak kondisi bawah permukaan yang diketahui sebelum desain final, semakin besar peluang tim proyek mengantisipasi persoalan tersebut lebih awal.
Tentu saja, penyelidikan tanah tidak dapat menghilangkan seluruh risiko geoteknik. Kondisi bawah permukaan selalu memiliki tingkat ketidakpastian tertentu.
Namun, investigasi yang dirancang dengan baik dapat membantu mengurangi ketidakpastian tersebut.
Peran Sondir Boring pada Berbagai Jenis Infrastruktur
Kebutuhan terhadap penyelidikan tanah dapat dilihat pada berbagai sektor pembangunan.
1. Jalan dan Jalan Tol
Jalan berhubungan langsung dengan kondisi tanah dasar dan lapisan pendukung. Informasi geoteknik dibutuhkan untuk memahami karakteristik tanah serta mendukung perencanaan pekerjaan tanah dan struktur perkerasan.
2. Jembatan
Jembatan memiliki elemen fondasi yang dapat menerima beban besar. Kondisi tanah pada lokasi abutment maupun pier menjadi informasi penting dalam perencanaan.
3. Gedung
Semakin besar beban struktur dan semakin kompleks sistem bangunannya, semakin penting pula pemahaman terhadap kondisi tanah dan kedalaman lapisan pendukung.
4. Kawasan Industri
Kawasan industri tidak hanya terdiri atas bangunan utama. Di dalamnya dapat terdapat gudang, jalan internal, fasilitas utilitas, struktur pendukung, dan berbagai bangunan dengan beban berbeda.
5. Infrastruktur Sumber Daya Air
Bendungan, tanggul, saluran, bangunan air, dan struktur pengendali banjir memiliki interaksi yang kuat dengan kondisi tanah. Penyelidikan geoteknik menjadi bagian penting untuk memahami kondisi material dan perilaku tanah pada lokasi.
Kementerian PUPR pada 2025, misalnya, menetapkan sejumlah kegiatan sumber daya air seperti pembangunan dan rehabilitasi irigasi, bendungan lanjutan, pengendalian banjir, pengaman pantai, serta prasarana air baku sebagai bagian dari program infrastrukturnya.
Infrastruktur 2021–2026 Tidak Hanya Tentang Jalan
Jika membicarakan tren infrastruktur Indonesia, perhatian sering kali langsung tertuju pada jalan tol.
Padahal, perkembangan infrastruktur memiliki cakupan yang jauh lebih luas.
Data Kementerian PUPR menunjukkan bahwa pada 2024 Direktorat Jenderal Bina Marga mencatat pembangunan jalan sebesar 350,93 km, jalan tol yang beroperasi 184,73 km, pembangunan jembatan 3.966,34 meter, serta pembangunan flyover dan underpass 2.970,28 meter.
Di luar konektivitas, terdapat pula pembangunan infrastruktur air, perumahan, permukiman, fasilitas publik, kawasan industri, dan berbagai proyek lainnya.
Setiap sektor membawa karakteristik geotekniknya sendiri.
Karena itu, kebutuhan terhadap sondir boring tidak dapat dilepaskan dari keragaman jenis pembangunan tersebut.
Mengapa Tidak Semua Proyek Memerlukan Metode yang Sama?
Salah satu kesalahan dalam memahami kebutuhan uji tanah adalah menganggap bahwa semakin besar proyek, semakin banyak jenis pengujian yang otomatis harus dilakukan.
Dalam praktik geoteknik, pemilihan metode harus didasarkan pada kebutuhan investigasi.
Lokasi, jenis struktur, beban, kondisi geologi, kedalaman tanah yang perlu diketahui, serta tujuan desain dapat memengaruhi metode penyelidikan.
Sondir dapat menjadi metode yang efektif untuk memperoleh profil resistensi tanah secara menerus. Boring dapat diperlukan ketika informasi lapisan tanah dan sampel menjadi penting. Dalam proyek tertentu, keduanya dapat dilengkapi dengan metode lainnya.
Jadi, tren pembangunan tidak berarti semua proyek harus menggunakan “paket” pengujian yang sama.
Yang meningkat justru kebutuhan untuk memilih metode penyelidikan yang sesuai dengan tingkat ketidakpastian dan risiko proyek.
Peran Standar dalam Pembangunan Infrastruktur
Perkembangan proyek infrastruktur juga berjalan berdampingan dengan kebutuhan akan standar teknis.
SNI 8460:2017 tentang Persyaratan Perancangan Geoteknik merupakan salah satu standar penting dalam konteks ini. Standar tersebut mencakup berbagai aspek perancangan geoteknik, termasuk fondasi, stabilitas lereng, struktur penahan, perbaikan tanah, galian, dan aspek terkait lainnya.
Keberadaan standar membantu memastikan bahwa proses perencanaan tidak hanya bergantung pada kebiasaan atau pengalaman individu.
Dalam konteks pembangunan yang semakin kompleks, standar menjadi bagian dari mekanisme untuk menjaga konsistensi kualitas pekerjaan.
Melihat 2026 dan Tahun-Tahun Berikutnya
Memasuki 2026, kebutuhan pembangunan infrastruktur masih menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.
RPJMN 2025–2029 telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025. Pada periode tersebut, pembangunan diarahkan pada berbagai agenda yang membutuhkan infrastruktur dasar dan ekonomi, pemerataan wilayah, serta peningkatan ketahanan infrastruktur.
Artinya, kebutuhan terhadap data kondisi lokasi kemungkinan tetap menjadi bagian penting dari tahap awal proyek.
Namun, tantangan ke depan bukan sekadar meningkatkan jumlah investigasi tanah.
Yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas informasi yang diperoleh.
Pengujian harus dilakukan dengan metode yang sesuai, data harus dicatat dengan baik, hasil perlu diinterpretasikan secara tepat, dan informasi tersebut harus benar-benar digunakan dalam proses desain.
Dengan pendekatan tersebut, sondir boring tidak hanya menjadi pekerjaan lapangan yang dilakukan sebelum konstruksi, tetapi menjadi bagian dari rantai pengambilan keputusan proyek.
Kesimpulan
Periode 2021–2026 menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur Indonesia berlangsung dalam skala besar dan mencakup berbagai sektor, mulai dari konektivitas, sumber daya air, permukiman, hingga pembangunan kawasan dan fasilitas ekonomi.
Perkembangan tersebut memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan terhadap data kondisi tanah.
Sondir dan boring menjadi dua metode penting dalam penyelidikan geoteknik karena mampu memberikan informasi mengenai kondisi bawah permukaan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pengamatan visual.
Namun, peran keduanya bukan sekadar memenuhi tahapan administratif proyek.
Data hasil penyelidikan dapat digunakan untuk membantu memahami kondisi tanah, mendukung perencanaan fondasi dan pekerjaan geoteknik, serta mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
Karena itu, ketika melihat tren infrastruktur Indonesia selama 2021–2026, penting untuk tidak hanya bertanya berapa banyak jalan, jembatan, gedung, atau fasilitas yang dibangun.
Pertanyaan lainnya adalah: seberapa baik kondisi lokasi dipahami sebelum pembangunan dimulai?
Di titik inilah kebutuhan uji tanah menjadi relevan. Semakin kompleks proyek yang dibangun, semakin penting pula keputusan konstruksi didukung oleh data geoteknik yang memadai.
Daftar Pustaka
- Badan Standardisasi Nasional. (2017). SNI 8460:2017, Persyaratan Perancangan Geoteknik.
- Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2024). Budget in Brief 2024: Accelerating Inclusive and Sustainable Economic Transformation.
- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2024). Pagu Indikatif TA 2025 Sebesar Rp75,63 Triliun, Kementerian PUPR Fokus Pembangunan Infrastruktur Ekonomi dan Proyek Strategis Nasional.
- Kementerian Pekerjaan Umum. (2025). Prioritaskan Infrastruktur Dasar Rakyat, Kementerian PU Terus Pacu Realisasi Fisik Anggaran 2025.
- Kementerian Pekerjaan Umum. (2025). Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025–2029.
- Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum. (2025). Capaian Ditjen Bina Marga Tahun 2024 dan Rencana Pelaksanaan Kegiatan Tahun 2025.



